Ray Dalio Tegaskan Komitmen sebagai Penasihat Nonresmi Danantara di Tengah Isu Mundur
Jakarta, 9 Juni 2025 — Spekulasi mengenai mundurnya investor kawakan asal Amerika Serikat, Ray Dalio, dari perannya sebagai penasihat Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), akhirnya terjawab. Melalui pernyataan resmi, Dalio menegaskan bahwa dirinya tetap mendukung misi Danantara dan tidak pernah secara formal mengundurkan diri dari posisi tersebut.
Isu mundurnya Dalio mencuat dalam beberapa pekan terakhir, setelah sejumlah media internasional, termasuk Bloomberg, mengabarkan bahwa ia batal bergabung dengan Danantara karena alasan pribadi. Kabar ini langsung menimbulkan tanda tanya publik dan memicu diskusi mengenai transparansi serta tata kelola lembaga pengelola dana abadi baru Indonesia tersebut.
Namun dalam klarifikasinya, Ray Dalio menegaskan bahwa ia tetap menjadi penasihat nonresmi Danantara. “Saya tetap menjadi pendukung setia misi Danantara Indonesia dan percaya pada pentingnya pembangunan jangka panjang yang berkelanjutan. Keterlibatan saya sebagai penasihat tetap sama seperti sebelumnya—bersifat sukarela dan tanpa kompensasi,” ujar Dalio dalam pernyataan tertulis.
Senada dengan Dalio, CEO Danantara, Rosan Roeslani, juga membantah kabar tersebut. “Saya masih terus berkomunikasi dengan Ray Dalio dan timnya, termasuk anaknya Mark Dalio. Tidak ada perubahan status; beliau tetap berperan sebagai penasihat,” ujarnya kepada media.
Ray Dalio ditunjuk sebagai penasihat Danantara pada Maret 2025, bersama tokoh internasional lain seperti ekonom Jeffrey Sachs dan mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra. Penunjukan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat kredibilitas Danantara di mata investor global, mengingat reputasi Dalio sebagai pendiri dan mantan pimpinan hedge fund terbesar di dunia, Bridgewater Associates.
Meski telah diklarifikasi, kemunculan isu ini dianggap sebagai peringatan penting bagi Danantara terkait pentingnya komunikasi publik dan pengelolaan persepsi. Pengamat ekonomi menilai bahwa konsistensi dan kejelasan narasi dari lembaga negara yang mengelola dana besar sangat krusial untuk menjaga kepercayaan investor domestik maupun internasional.
Danantara sendiri dibentuk untuk mengelola dana abadi hasil pengelolaan sumber daya alam dan investasi strategis Indonesia, dengan tujuan membangun ketahanan fiskal jangka panjang dan memastikan generasi mendatang tetap mendapatkan manfaat dari kekayaan negara.