Perseteruan Antara Donald Trump dan Elon Musk Menjadi Sorotan Nasional
Washington D.C., 9 Juni 2025 – Ketegangan antara mantan Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, dan CEO Tesla sekaligus pemilik X (dahulu Twitter), Elon Musk, kembali mencuat ke publik. Perseteruan ini dipicu oleh kritik terbuka Musk terhadap kebijakan anggaran yang didorong oleh Trump, serta komentar-komentar tajam yang menyentuh aspek pribadi dan politik.
Dalam pernyataan publik melalui platform X, Elon Musk menyebut rancangan undang-undang pengeluaran yang didukung Trump sebagai “disgusting abomination” atau “abominasi yang menjijikkan”. Kritik tersebut dianggap sebagai bentuk penolakan terhadap besarnya anggaran subsidi dan kontrak pemerintah yang menurut Musk tidak transparan dan rentan disalahgunakan.
Ketegangan meningkat setelah Musk mengunggah pernyataan yang mengaitkan Trump dengan dokumen Jeffrey Epstein, yang kemudian dihapus. Ia juga menyiratkan bahwa kemenangan Trump dalam pemilu 2024 tidak akan terjadi tanpa dukungan Musk dan platform media sosialnya.
Menanggapi hal tersebut, Trump memberikan balasan tajam. Dalam wawancaranya baru-baru ini, ia menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki niat untuk berbicara kembali dengan Musk, menyebut sang miliarder sebagai “sangat tidak hormat” dan “telah kehilangan akal sehat.” Trump juga memperingatkan akan adanya konsekuensi serius jika Musk memutuskan untuk mendukung Partai Demokrat dalam pemilu mendatang, termasuk kemungkinan pencabutan kontrak pemerintah dengan perusahaan-perusahaan milik Musk seperti Tesla dan SpaceX.
Ketegangan ini berdampak langsung pada pasar. Saham Tesla sempat mengalami penurunan hingga 14% dalam waktu singkat, menyusul kekhawatiran investor terhadap potensi dicabutnya insentif dan kontrak federal yang selama ini menopang pertumbuhan perusahaan.
Meski demikian, sejumlah analis berpendapat bahwa dampak jangka panjang terhadap bisnis Musk kemungkinan bersifat terbatas. Fokus perusahaan terhadap pengembangan teknologi masa depan, seperti kendaraan otonom (robotaxi) dan kecerdasan buatan, dinilai cukup kuat untuk menjaga stabilitas bisnis di tengah ketidakpastian politik.
Di sisi lain, para pengamat menilai perseteruan ini mencerminkan dinamika baru antara kekuatan politik dan pengaruh elite teknologi di Amerika Serikat. Ketegangan antara dua tokoh paling berpengaruh ini tidak hanya mempengaruhi pasar, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai batas campur tangan individu berpengaruh terhadap arah kebijakan nasional.
Dengan pemilu paruh waktu yang semakin dekat, perseteruan ini diperkirakan akan terus bergulir, menjadi bagian dari narasi besar dalam kontestasi kekuasaan dan arah masa depan politik serta teknologi di Amerika Serikat.