Dedi Mulyadi Usul Jam Masuk Sekolah jadi Pukul 6 Pagi
Bandung, Jawa Barat – Juni 2025 Anggota DPR RI Dedi Mulyadi mengusulkan perubahan jam masuk sekolah menjadi pukul 06.00 pagi sebagai bagian dari upaya membentuk kedisiplinan dan etos kerja sejak usia dini. Usulan tersebut disampaikan dalam forum diskusi pendidikan yang membahas peran sekolah dalam membangun karakter generasi muda Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Barat.
Menurut Dedi, kebiasaan bangun pagi dan memulai aktivitas sejak subuh memiliki dampak positif terhadap pembentukan mental tangguh, efisiensi waktu, serta kebugaran fisik. Ia menekankan bahwa kebiasaan ini merupakan nilai budaya yang telah lama hidup di kalangan masyarakat Sunda, dan perlu direvitalisasi dalam sistem pendidikan formal.
Dedi menambahkan, penerapan jam masuk lebih pagi bukan semata-mata bertujuan untuk memperpanjang durasi belajar, melainkan untuk menanamkan kedisiplinan serta kesiapan mental anak dalam menghadapi dunia kerja yang penuh tuntutan waktu dan tanggung jawab. Ia menilai, pembiasaan sejak bangku sekolah akan menciptakan lulusan yang lebih terstruktur dan produktif.
Namun demikian, usulan ini menuai beragam tanggapan dari publik dan para pemerhati pendidikan. Beberapa kalangan menyatakan kekhawatiran terhadap dampak kesehatan dan kesiapan anak, terutama yang tinggal di daerah dengan akses transportasi terbatas. Masalah keamanan anak yang berangkat sebelum matahari terbit juga menjadi sorotan, khususnya bagi siswa sekolah dasar.
Di sisi lain, ada pula pihak yang mendukung ide tersebut asalkan didukung dengan kebijakan pendukung seperti penyesuaian jam tidur, perbaikan sarana transportasi sekolah, serta pelibatan orang tua dalam mendampingi rutinitas anak. Beberapa sekolah di daerah pedesaan pun disebut telah lama memulai kegiatan belajar sejak pukul 06.30 tanpa mengalami kendala berarti.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi belum memberikan tanggapan resmi atas usulan tersebut. Namun, sejumlah pejabat daerah menilai bahwa sebelum diimplementasikan secara luas, wacana tersebut perlu dikaji lebih lanjut melalui uji coba terbatas dan evaluasi menyeluruh terkait efektivitas, kesiapan infrastruktur, serta dampaknya terhadap psikologi siswa.
Usulan Dedi Mulyadi ini menambah daftar gagasan reformasi pendidikan yang kerap muncul dari para pemangku kepentingan daerah. Terlepas dari pro dan kontra, ide tersebut membuka ruang diskusi baru tentang bagaimana sistem sekolah dapat lebih adaptif terhadap nilai-nilai lokal, kedisiplinan sosial, dan kebutuhan zaman.